Rabu, 17 September 2008

perubahan besar dalam hidup kami

gemericik air...
tenang.
pejamkan matamu teman....
rasakan suara hening di sekitarmu...

jika kau mendapatkan keheningan itu,kau akan dapat merasakan keadaanku yang sepi...
saat beliau pergi...dengan wajah damai tanpa beban...
aku menyentuh pipinya yang dingin. tanganku gemetar, mulutku gemeretak, nadiku tak berdenyut, semuanya membuat aku mati rasa. air mataku deras, dadaku sesak...
BELIAU...pergi dengan tenang.,,,

bahkan dia tidak melirikku sesaat saat aku turut membelai jenazahnya yang dingin...
nenek, dingin sekali...
mau aku peluk?
agar sedikit lebih hangat...
mau???

tapi aku tak berani pada raga tanpa nyawa. aku masih takut pada kematian...aku hanya berani menantangnya dengan tatapanku, berharap mata yang tertutup itu akan membuka sesaat untuk melihatku yang terakhir kalinya senelum BELIAU diturunkan kembali ke pertiwi.

rangkaian acara yang sangat besar di rumah untuk menyemayamkan BELIAU membuat aku linglung, kurang tidur, kepikiran, lelah.....

beberapa bulan kemudian....

seperti biasa, jika pamanku yang seorang Kol. angkatan laut datang ke Bali, dia akan ke kampung halaman, menemui kakak tertuanya, bapakku terkasih...
aku bahagia dengan kehadiran mereka. keluarga jauh yang selalu buatku rindu...aku bahagia menyambut pelukan mereka. hangat, tulus, meringankan nurani...
tapi.........
ta...
pi...
........

sebaiknya, di sini dihuni....
satu kepala saja....
kita keluarga yang memiliki cabang yang banyak,
kita memiliki tanggung jawab pada masing-masing pekerjaan yang kita punya.
untuk itu, demi kesuksesan konstruksi rumah ini, kita harus punya satu cabang yang kuat, agar tidak terlalu berlarut-larut dalam membuat keputusan demi kebaikan kawitan...
tapi, sebagai tertua, Bli Wayan patut menentukan, siapa yang harus tinggal di sini. kami sebagai adik-adik hanya bisa menerima keputusan yang Bli berikan.....

aku membatu. menggigit bibir, membiarkan bibirku terluka, darah mengucur, dan kutelan. darah yang pahit, penuh kepedihan karena tidak mampu berbuat apa. ketidakberdayaanku terasa pahit. pahit darah itu berhasil menahan air mata dan kegeramanku.
kakakku satu pun tak ada di rumah. itu hari sekolah, semuanya kuliah..,.
aku menyadari anak tertua yang ada di rumah saat itu adalah aku. jantungku berdebar hebat, karena.....

saya sebagai orang Bali, menghormati adat yang berlaku, jadi, sesuai adat orang di sini, saya putuskan memberikan rumah ini dan tanah peninggalan di sini....

aku...ingin menangis....
aku ingin menjerit.........namun....tak berguna, saat Bapakku terkasih dengan tenang dan penuh wibawa yang suci dihadapan kolonel angkatan laut RI....berkata...

adik terbungsu, pantas tinggal di sini sebagai batang keluarga ini yang memperkuat cabang - cabangnya kelak...

aku mati.rok lucu yang kupakai saat ku masih SMP itu kuremas hebat. kekalutan dalam jiwaku mencair karena ketidakberdayaan...

tapi, alangkah baiknya kalau tidak memaksakan diri. kita bisa hidup bersama di tempat yang seluas ini. kita bisa bertetangga, mengapa tidak membangun bangunan baru di sebelah timur yang masih sangat lapang? daripada nanti menjadi semak atau lapangan bola penduduk sekitar?

aku menahan nafas mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Bapak yang tenang tanpa getaran hebat seperti diriku...

tapi, kita kan sudah bilang satu kepala. agar tidak berlarut-larut dalam....

baik baik, saya bulatkan keputusan saya. saya berikan kunci tempat ini untuk adik bungsu...
(aku terhenyak kembali dengan keputusan bapak. menyiksa....batinku....)

aku tak tahan lagi. aku sudah cukup merasakan kepalaku berat tertunduk tanpa air mata, penuh kebisuan dan senyum palsu yang pahit.
suaraku gemetar...aku bahkan menyesal tidak mampu mengontrol suaraku yang....tak seindah presentasi di depan mata guruku...

lalu....
maaf...saya...saya...
saya ikut campur bicara...saya...ingin...bicara
(glukk)
saya ingin bertanya...bagaimana dengan...rumah kami, selanjutnya???bagaimana...kehidupan kami.....

belum habis isi hatiku, paman memotong.

bapak kan punya banyak tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal. jadi, rasanya tidak akan masalah....

HABIS!!!HABIS!!HABIS!!!
KATA KATAKU HABIS!SUDAH HABIS SEMUA HARAPANKU, HABISSSSSS!!!
siapa yang hadir dalam pertemuan itu? lihat aku menunduk pasrah tanpa guna. senyumku mengembang sebagai tanda bahwa aku sangat berusaha menahan air mataku...
mereka bohong!!!memang ada banyak tempat yang keluargaku punya, tapi semuanya rata dengan tanah!!!aku ingin menuntut,,,tapi...
ada hawa menyejukkan yang menahan emosiku meledak. bapak begitu ikhlas...ikhlas sekali, bahkan dia tidak memikirkan tempat tinggal kami selanjutnya....

ceritanya belum berakhir. masih panjang....panjang sekali,
nanti akan kuceritakan lagi.
aku janji akan cerita...
aku ingin kisah ini menjadi rahasia dunia...


^^

0 komentar: