Rabu, 24 September 2008

perubahan besar dalam hidup kami bgn 3

purnama bersinar penuh keajaiban. aku senang tidak ada yang datang, membiarkan jiwaku sejuk dan tersenyum sementara.
keajaiban masih mengharapkan keberadaan kami di sini. mengikuti alur sempit yang menyesatkan sementara waktu.

Bapak yang senang mengacak rambutku tersenyum berat.
tengah malam kadang dia datang, kadang juga tidak datang. aku selalu terjaga setiap merasakan kehadirannya di kamarku. mematikan lampu atau hanya sekedar memperbaiki selimutku...
aku sadar kehadirannya jika dia pulang tengah malam.

sosok hangat yang menyejukkan,
dia bekerja keras...aku sadar sebentar lagi aku akan SMA. perlu biaya yang tak sedikit untuk masuk smansa...
tapi semua berusaha dalam kondisi itu...

hari itu...
yang di rumah hanya ibu, aku, dan adik-adik
awalnya aku tidak berniat bergabung bersama ibu, om, dan tante.
tapi setelah kupikir-pikir lagi,
aku bergabung...
kesalahan itu aku rasakan...
semuanya diungkit olehnya di depanku. aku merasa semua yang dikatakannya memang benar (secara de facto) tapi,
jika dia tidak mempedulikan perasaan orang lain. dia tidak menyinggung pengorbanan dan cinta yang mengalir dalam keluargaku. dia hanya berusaha membunuh mentalku, menundukkanku dengan fakta - falkta yang berhasil dikumpulkannya.

tapi..
mengapa di saat seperti itu dia baru mengungkit semuanya?
mengapa dia terkesan sangat berusaha mencari - cari alasan untuk mempercepat proses kepindahan keluargaku.
aku curiga. aku ingin melemparkan sebuah tinju pada mereka berdua.aku geram...
tapi, jiwaku masih terlalu bersih untuk turut berpolitik dalam keluarga. aku tidak bisa menentang segala yang dikatakannya. aku hanya bisa menangis. menjerit dan memohon padanya agar mereka tidak menyakiti orangtuaku yang sudah sangat terjepit oleh berbagai masalah dari berbagai penjuru bidang kehidupan.

dia memelukku, mendekapku erat dan mengecup dahiku dengan penuh kasih. aku masih bisa merasakan dia adalah om ku. aku tidak bisa mengelak, aku sangat menyayanginya. dia adalah adik bapak yang aku hormati.

aku belum bisa membencinya walaupun dia telah menyakiti jiwaku dengan kata-katanya yang menusuk hingga ke lubuk hatiku.
semua tahu...
satu kompleks tahu aku menangis histeris hari itu. aku telah menggemparkan semua orang. aku membuat banyak orang terusik.
dan tentunya....
juga ada yang sangat bahagia mendengar tangisku....


om ku pasti bahagia mendengar tangisku.

deritamu belum seberapa jika dibandingkan dengan deritaku dulu

percaya atau tidak, dia bicara seperti itu disela-sela pelukannya. disela-sela kegeraman, kemarahan, kasih sayang, dan cintaku padanya...

huhuhuhuhuuhhuhuuuu....
aku bersalah sudah menangis hari itu. tapi aku tidak berniat minta maaf atas kesalahan itu.

ada kebencian besar yang melenyapkan banyak memori yang kuhadapi pada hari-hari setelahnya...

salah satu memori yang terlupakan, dan samar-samar adalah...
angin bertiup kencang dan banyak kelapa gading di pura itu ketika ada rapat keluarga di alun-alun pura....
semua diam. desi yang bicara. seperti aku, dia tertekan, dia menangis dan menjerit hebat....
seperti kondisi yang terjadi padaku, wanita menjijikkan itu tertawa, tersenyum dengan kemenangannya...
menjijikkan...

yang belum merasakan pedihnya rapat keluarga adalah kakakku yang kedua.
dia beruntung, padahal aku berharap banyak dia merasakannya. dia lebih bijaksana dan emosinya masih bisa terkontrol. dia lebih pandai menenangkan diri...


banyak hal lain yang terjadi sehingga keluargaku terdesak oleh kata-kata tajam dan menjijikkan.


^^

0 komentar: